PASAR DUNIA TRANSAKSI BERKAH DAN TERPERCAYA

Pasar Dunia Membantu Penjualan dan pembelian barang dan jasa yang anda perlukan.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 22 April 2015

Chocodot Garut Mendobrak Pasar Dunia

Kalau Bandung kita kenal dengan sebutan Paris Van Java, begitu juga dengan Garut orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan Swiss Van Java. Kenapa di sebut demikian karena Garut termasuk area yang di kelilingi oleh gunung-gunung yang sangat sejuk di pandang mata seperti halnya keadaan topografis di negara Swiss yang memiliki banyak areal pegunungan.
 GARUT – wartaexpress.com - Garut merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki panorama pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Kabupaten Garut, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Tarogong Kidul. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara, Kabupaten Tasikmalaya di timur, di selatan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandungdi barat. Ibukota Kabupaten Garut berada pada ketinggian 717 m dpl dikelilingi oleh Gunung Karacak (1.838 m), Gunung Cikuray (2.821 m), Gunung Papandayan (2.622 m), dan Gunung Guntur (2.249 m).
Selain itu Garut juga memiliki kekayaan kuliner yang tidak kalah menariknya dengan keindahan alamnya. Makanan yang paling khas dari Garut yaitu dodol, Bahkan kebanyakan orang bilang kalau pulang dari Garut tidak bawa buah tangan dodol katanya bukan dari Garut. Karena jenis makanan dodol sudah menjadi ciri khas dan menjadi salah satu icon makanan untuk kota Garut.
Adalah Chocodot (dibaca: cokodot.), dodol khas Garut yang mendobrak pasar dunia, dalam ide pembuatan chocodot timbul secara tidak sengaja. Suatu kali, Kiki Gumelar (pembuat roti dan coklat) secara tidak sengaja menjatuhkan dodol ke dalam adonan coklat.
Saat itulah muncul ide menjadikan dodol sebagai isi coklat. Setelah dicoba, ternyata menghasilkan rasa yang nikmat. Perpaduan tekstur dodol yang kenyal dengan rasa manis coklat terasa begitu pas saat menyentuh lidah.
Kiki Gumelar, pengusaha muda ini berhasil meraih UKM Award pada tahun 2010, untuk kategori inovasi produk. Chocodot, atau cokelat isi dodol, dinilai dewan juri sebagai produk yang inovatif. Penghargaan itu memotivasi Kiki untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi daerah Garut melalui kuliner, sekaligus mengajak generasi muda mengembangkan potensi dirinya. Penghargaan ini membuktikan bahwa orang muda dari kota kecil pun bisa menjual kreativitasnya.
Kiki mengatakan, saat ini produksinya mencapai lima ton cokelat dan dua ton dodol/bulan untuk membuat berbagai produk pangan itu.
“Saya juga memasarkan chocodot dan yang lainnya lewat internet. Pembelinya dari berbagai daerah, termasuk dari Singapura,” kata Kiki.
Chocodot yang awal mulanya merupakan penggalan dari “chocolate with dodol Garut” telah berubah menjadi “Indonesian Chocolate”. Hal ini dikarenakan sang pembuat coklat ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki coklat yang tak kalah lezat dibanding coklat buatan luar negeri.
Soal rasa, chocodot memiliki varian yang sangat beragam. Mulai dari rasa coklat yang pahit, coklat susu, hingga coklat putih yang lembut. Pemilihan nama pun sangat unik. “Coklat anti galau”, “coklat enteng jodoh”, serta “coklat cetar membahana” menjadi nama-nama coklat yang tersedia di Gerai Chocodot di Garut.
Bahkan, jika Anda suka dengan ramalan shio, coklat dengan kemasan shio bisa menjadi pilihan. Coklat juga bisa dipilih sesuai dengan shio Anda.
Gerai dan toko chocodot dapat ditemui di Jalan Siliwangi dan pusat oleh-oleh di daerah Tarogong, Garut. ***azman
sumberhttp://wartaexpress.com/2015/03/17/chocodot-garut-mendombrak-pasar-dunia/

Rabu, 15 April 2015

Rambutan "Tangkue' Lebak Tembus Pasar Dunia

Konfrontasi - Produk berbasis komoditas rambutan "tangkue' asal Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menembus pasar dunia yakni sejumlah negara di ASEAN dan Timur Tengah.
"Sebagian besar petani di sini memasuki panen rambutan tangkue dan dipasok ke mancanegara melalui jasa perusahaan dari Jakarta," kata Saprudin, seorang penampung rambutan tangkue di Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Rabu (4/3).
Menurut dia, selama ini komoditas rambutan tangkue merupakan andalan petani Kecamatan Maja, Curugbitung, Sajira dan Rangkasbitung.
Permintaan buah rambutan tangkue itu cukup tinggi baik pasar lokal maupun mancanegara.
Kelebihan rambutan tangkue asal Lebak, selain manis, buahnya besar, juga tidak banyak mengeluarkan air.
Karena itu, kata dia, permintaan pasar Timur Tengah, seperti negara Kuwait, Abu Dhabi dan Oman lebih menyukai rambutan tangkue.
Mereka biasanya memakan rambutan tangkue pada malam hari bersama keluarga, karena rasanya sangat menyegarkan.
"Kami setiap pekan memasok buah rambutan ke luar negeri antara empat sampai tujuh ton, namun sebelum diekspor terlebih dulu disortir," katanya.
Ia mengatakan saat ini buah rambutan melimpah karena di beberapa sentra di Lebak memasuki masa panen.
Biasanya, masa panen rambutan bisa bertahan selama tiga bulan, sehingga dapat meningkat perekonomian masyarakat.
Petani di sini mengembangkan budi daya tanaman hortikultura sudah puluhan tahun dan kini masih menjadi unggulan komoditas daerah.
"Kami merasa terbantu jika musim panen bisa menampung komoditas buah rambutan milik petani Kecamatan Maja dan Curugbitung," katanya.
Sueb, salah seorang petani warga Kecamatan Curugbitung mengaku dirinya merasa terbantu dengan panenan rambutan tangkue.
Dari hasil panen rambutan, dia bisa membangun rumah dan membeli perabotan rumah tangga.
Jika musim panen rambutan petani setempat dipastikan pendapatan ekonomi masyarakat meningkat.
Hampir semua warga yang tersebar di sepuluh desa itu memiliki tanaman rambutan.
Mereka menanam rambutan di kebun-kebun dan halaman rumah.
Kebanyakan petani di sini menjual dengan cara diborong tangkal oleh tengkulak dengan harga Rp800 ribu/pohon.
"Buah rambutan tangkue Lebak ini telah dipatenkan oleh balai sertifikasi benih unggulan di Bogor," katanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan pemerintah daerah terus mengembangkan komoditas berbasis lokal dengan pembudidayaan hortikultura, jenis buah-buahan, seperti rambutan, durian, pisang, manggis dan dukuh.
Bahkan, bila musim panen pada Januari sampai April komoditas rambutan dan manggis dipasok ke beberapa negara di Eropa, ASEAN dan Timur Tengah.
Selain itu juga dipasok ke Jakarta dan Tangerang.
"Kami terus mendorong pengembangan rambutan ini karena dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat," katanya. (ant/ar)
Sumber:http://www.konfrontasi.com/content/ekbis/rambutan-tangkue-lebak-tembus-pasar-dunia#sthash.4J7rEVf8.dpuf

Selasa, 07 April 2015

Potensi Arang Batok Kelapa di Pasar Dunia

Potensi Arang Batok Kelapa di Pasar Dunia - Seringkali kali kita melihat limbah tempurung atau batok kelapa yang berceceran di pasar-pasar tradisional. Padahal batok kelapa itu merupakan bahan baku untuk dijadikan arang yang bernilai ekonomis.


Potensi bisnis arang batok kelapa sangatlah besar, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun luar negeri. Didalam negeri sendiri kebanyakan dipakai untuk keperluan memanggang, konsumennya kebanyakan adalah pedagang sate. Yang mengejutkan lagi ternyata harga arang batok kelapa di tingkat dunia cukup tinggi yaitu Rp 2.000.000,- per ton. Pangsa pasarnya adalah Cina dan Korea Selatan yang memerlukan arang batok kelapa untuk memasak di restoran sedangkan pangsa pasar Eropa memerlukan arang batok kelapa untuk memanggang.

Proses pengolahan tempurung kelapa menjadi arang dilakukan dengan cara dibakar. Setumpuk tempurung kelapa dimasukkan ke dalam drum. Kemudian, tempurung kelapa dibakar sedikit demi sedikit hingga penuh. Setelah semalaman barulah kemudian diayak untuk menyaring batok yang berkualitas baik seperti yang tampak di pinggiran kali di daerah kotabambu Jakarta Barat. Didaerah ini ada beberapa pembuat arang batok kelapa yang telah beroperasi sejak tahun 1980an.

Usaha ini cukup berhasil menghidupi keluarga mereka selama ini, sebenarnya dari tahun ke tahun permintaan akan arang batok kelapa terus meningkat. Setiap hari sudah ada para pengepul yang siap menampung arang batok.

Masih besarnya potensi arang batok kelapa merupakan salah satu peluang usaha yang memiliki prospek bagus bagi usaha kecil. (arang batok)

Rabu, 01 April 2015

Jurus Jitu Pasar Tradisional Melawan Pasar Modern

OLEH : ELISA B JUSUF
Marketing Advisor
Di era globalisasi ini, makin menjamur saja minimarket, supermarket, dan hypermarket. Apakah pasar tradisional kita akan lenyap dalam beberapa tahun mendatang? Bagaimana cara mempertahankan pasar tradisional yang juga menjadi sumber nafkah ribuan pedagang kecil?
Dari tahun ke tahun jumlah pasar tradisional di Indonesia mengalami penurunan sekitar 11% dari 75% pada tahun 2001 menjadi 66% pada tahun 2005. Sedangkan jumlah supermarket dan hypermarket mengalami peningkatan sekitar 3 % dari 20% pada tahun 2001 menjadi 23% pada tahun 2005. Minimarket mengalamai kenaikan sebesar 7% dari 5% pada tahun 2001 menjadi 12% pada tahun 2005.
Saat mendengar kata ‘pasar tradisional’ yang persepsi yang muncul adalah murah, alami, kotor, jorok, bau, sumpek. Tapi, ketika membayangkan supermarket, yang terbayang adalah suasana bersih, rapi, teratur, dan leluasa, walaupun harganya relatif lebih mahal dari pasar tradisional. Sehingga muncul pertanyaan, kalau harga di supermarket relatif lebih mahal dari pada di pasar tradisional mengapa orang – orang lebih memilih berbelanja di supermarket?
Alasannya adalah, supermarket menawarkan one stop shopping spot bagi pelanggannya sehingga semua kebutuhan bisa ditemukan di supermarket dan hypermarket. Didukung dengan atmosfir eksklusif, kerapian dan kebersihan menawarkan kenyaman berbelanja.
Lalu, apa yang bisa diharapkan dari pasar tradisional? Pasar tradisional memang bukan one stop shopping spot. Karena tiap pasar punya keunikannya sendiri. Misal Pasar Keputeran terkenal dengan sayurnya yang fresh, Pasar Blauran yang terkenal dengan jajanan pasarnya. Tapi, pasar tradisional memberikan atmosfir persahabatan antara penjual. Ada interaksi baik antar pembeli maupun antara pembeli dan penjual. Ini yang tidak ditemukan di pasar modern yang terkesan individualis dan eksklusif.
Jurus jitu apa yang diperlukan oleh pasar tradisional untuk menghadapi persaingan dengan pasar modern saat ini???
Jurus jitu tersebut adalah : Pertama, melakukan Segmentation, Targeting dan Positioning. Kedua, memberikan nilai tambah yang dipromosikan. Ketiga, membangun brand / nama.
Dimulai dari mensegmentasikan dan menargetkan konsumen berdasarkan keunggulan yang dimiliki masing – masing pasar. Misal, Pasar Keputeran yang terkenal dengan hasil pertanian yang fresh dan harganya yang murah. Selanjutnya menentukan konsumen yang bagaimana yang akan dibidik. Mungkin Pasar Keputeran bisa dijadikan distributornya pedagang di pasar – pasar kecil lainnya di Surabaya. Sehingga menekankan pada penjualan grosir dan harga murah. Jadi, harus ditekankan pada para pedagang pasar Keputeran bahwa mereka hanya boleh menjual dalam jumlah besar. Dari sini jelas bahwa yang menjadi target konsumen Pasar Keputeran adalah para pedagang sayur di pasar lainnya di Surabaya.
Brand atau nama tujuannya sebagai tanda pengenal. Membangun brand pasar ini, pertama dengan mengubah image masyarakat tentang pasar tradisional yang terkesan jorok dan kotor harus diubah menjadi asri dan bersih. Lalu, melakukan positioning pada brand masing – masing pasar, misalnya dengan memberikan tag Line ’Keputeran Selalu Menawarkan Kesegaran’. Tapi tag line itu harus direalisasi dan dipenuhi oleh segenap pedagang pasar dan pemerintah. Karena tag line itu adalah sebuah janji yang harus dipenuhi. Tujuannya supaya masyarakat benar – benar merasakan adanya perubahan. Tujuan awalnya adalah menarik masyarakat berbelanja di pasar.
Kalau masyarakat atau konsumen sudah mulai berdatangan maka, yang dibutuhkan selanjutnya adalah usaha dari masing – masing pedagang untuk bersaing secara sehat satu sama lain. Karena di dalam pasar bisa didapati 10 penjual sayur yang menjual produk yang kurang lebih sama. Sehingga yang harus dilakukan para pedagang sayur ini adalah membangun brandnya masing – masing. Misalnya dengan memberi nama standnya ’Warung Sayur Mbah Surip’. Manfaatnya bagi pedagang tersebut adalah setidaknya ada nama yang bisa dikenal dan diingat oleh pembeli. Manfaat lainnya adalah memudahkan pelanggan mencari stand mereka. Jadi kalau ada orang yang lupa di mana letak stand Warung Sayur Mbah Surip maka dia bisa menanyakan pada orang sekitar karena ada nama sebagai tanda pengenal.
Sepertinya memang tampak sedikit aneh untuk melakukan perubahan ini pada pasar tradisional. Apa lagi dari jaman nenek moyang kita, yang namanya pedagang sayur tidak pernah memberi nama pada stand mereka. Tapi, sekarang ini jamannya sudah berubah! Kita hidup di era modern dengan persaingan super ketat. Konsumen makin pintar, maka produsen dan penjual harus lebih pintar dari konsumen. Konsumen sekarang memiliki banyak pertimbangan dalam memilih produk. Maka dari itu, produsen dan pedagang harus pintar – pintar menonjolkan nilai plus yang dimiliki.
”Nelayan dan petani akan terus terjepit karena mereka tidak pernah memberikan nilai tambah pada produk mereka.” kata David Sukardi Kodrat Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Ciputra.
Sama halnya dengan petani, pedagang pasar tradisional menjual hasil alam. Maka, yang perlu dilakukan oleh pedagang pasar adalah memberikan nilai pluspada produk yang dijual. Nilai plus itu bisa dalam bentuk macam – macam.
Nilai tambah ini bisa dimulai dari kebersihan dan kerapihan pada pasar tradisional. Kesadaran akan kebersihan harus dibangun dan ditumbuhkan di kalangan pedagang. Selain itu penataan barang dagangan yang rapi dan menujukkan keindahan. Lalu, kemasan yang menarik atau bahkan menghiasi stand dengan beberapa ornamen yang sederhana tapi tampak cantik. Acungan jempol bagi para pedagang sayur keliling yang secara tidak langsung mereka sudah melakukan pengembangan dalam cara menjual sayur. Kalau biasanya pasar berlokasi di satu tempat tertentu, pedagang keliling membuat konsep pasar berjalan. Akan tetapi perlu adanya pengembangan lebih apik untuk pedagang sayur keliling. Misalnya dengan membunyikan suara – suara tertentu saat berkeliling tujuannya untuk menarik perhatian orang yang di dalam rumah.
Saya yakin bahwa Pemda Surabaya dalam hal ini tidak tinggal diam dan terus melakukan usaha untuk membangun kembali citra pasar tradisional. Jika tidak, jumlah pasar tradisional yang dapat bertahan di Indonesia akan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Jangan meremehkan pedagang kecil, karena mereka adalah entrepreneur skala mikro yang akan menyokong perekonomian bangsa ini. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah pedagang kecil dan mikro di Jawa Timur tergolong tertinggi dengan rata – rata 20% (tahun 1998 – 2004) jika dibandingkan dengan propinsi – propinsi lain. Ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki potensi Sumber Daya Manusia dan SDA yang besar, maka pedagang pasar tradisional perlu didukung untuk bersaing dengan pasar modern yang didominasi oleh perusahaan asing. Ini menjadi kewajiban pedagang, pengelolah pasar dan segenap masyarakat sekitar untuk turut serta dalam membangun perekonomian bangsa ini melalui industri mikro yang dimulai dari pasar tradisional dahulu.
Dimuat di Surabaya Post edisi  3 September 2009sumberhttps://optimizemarketing.wordpress.com/2010/02/02/jurus-jitu-bagi-pasar-tradisional-melawan-supermarket/

Senin, 30 Maret 2015

Hutan Rakyat Jombang Menembus Pasar Dunia

Jombang (KN. Com) Deforestasi dan degradasi lahan telah menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan pengelolaan kawasan hutan. Di sisi lain, masyarakat dengan pola pengelolaan hutan rakyat, dianggap mampu menjaga kelestarian hutan. Perjuangan selama 2,5 tahun untuk menata diri hutan rakyat Kabupaten Jombang seluas 1029 ha akhirnya berbuah hasil. Hutan rakyat Kabupaten Jombang dinyatakan lulus memenuhi standart pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari. Hutan rakyat ini berada pada 13  kelompok tani hutan rakyat di Kecamatan Kabuh dan Plandaan.

            Penyiapan untuk bisa dinilai dilakukan bersama oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan  Kabupaten Jombang dan Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Social  (PERSEPSI). Penilaian dilakukan oleh pihak ketiga independen yakni lembaga sertifikasi PT. Mutuagung Lestari.  Dengan menggunakan standar Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML) yang dikembangkan oleh Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Penilaian ini melalui tiga tahapan selama dua hari oleh PERSEPSI,  menggunakan standart Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). Pengambilan keputusan dilakukan oleh Tim Panel  Pengambilan Keputusan (TPPK). Berdasarkan rumus kelulusan, nilai yang dicapai sangat memuaskan.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Ir. Jufri M.Si. dalam rapat koordinasi penerimaan Tim Panel Pakar Pengambilan Keputusan Sertifikasi di ruang Soero (5/5) mengatakan bahwa Kelulusan Hutan Rakyat Jombang merupakan yang  pertama. Pemerintah juga serius dalam memberikan perhatian dalam pengembangan hutan dan kerjasama. Tim ahli  PERSEPSI juga membenarkan bahwa kelulusan tersebut memenuhi standart internasional. Sehingga, hasil hutan seluas 1035 ha siap menembus pasar dunia  yang membutuhkan produk hutan yang dikelola secara alami. Sertifikasi PHBML yang telah diraih memiliki masa berlaku selama 15 tahun yang merupakan sebuah persyaratan mutlak untuk melakukan perdagangan luar negeri.

“Kelulusan sertifikasi ini baru bermakna ketika telah bisa memberikan peningkatan pendapatan dan taraf hidup petani” kata  Solihin dalam sambutan ringkasnya. Guna menunjang diversifikasi pengembangan usaha yang  lebih kompetitif untuk kedepan diperlukan uluran tangan seluruh satker untuk turut serta membina dan memberikan permodalan usaha dalam bentuk financial maupun ketrampilan. Diharapkan dengan lulusnya  FMU Koperasi Rimba Jaya Lestari   mampu menjadikan sebagai Pioner untuk KTHR-KTHR yang lain.

Bagi pengelola hutan adat, sertifikasi LEI digunakan sebagai proxy lewat pengakuan pasar untuk memberikan pengakuan atas kemampuan masyarakat dalam mengelola hutannya. Dengan adanya pengakuan pasar, sertifikasi akan membantu upaya masyarakat adat dan pihak-pihak lain yang mendampinginya untuk meyakinkan pemerintah untuk mendapatkan hak kelola masyarakat adat ataupun bentuk pengakuan lain yang dapat memberi ruang yang cukup bagi masyarakat adat untuk dapat mengelola hutannya secara berkelanjutan. Pihak-pihak lain yang bergerak di bidang advokasi masyarakat adat dapat menggunakan sertifikasi untuk membantu upaya advokasi atas pengakuan hak kelola hutan adat. vip

Sabtu, 28 Maret 2015

Mutiara NTB, Menuju Pasar Dunia

Mutiara merupakan salah satu komuditi unggulan Indonesia yang pembudidayaannya banyak dilakukan di NTB. Dan kualitas mutiara NTB dikenal sebagai yang terbaik di dunia, ujar Dirjen Pemasaran DepBudpar, Sapta Nirwandar. Dan selama ini mutiara sudah menjadi ikon NTB. Karena itulah NTB berambisi untuk menjadi pasar mutiara dunia. Jika ini berhasil, maka baru inilah satu-satunya pasar internasional mutiara di dunia. “Secara umum mutiara NTB memiliki keunggulan komparatif. Perairan NTB merupakan hamparan mutiara” Kata Ali Syahdan, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTB.
    Dilihat produksi mutiara NTB yang rata-rata 600 kg/tahun, daerah ini siap menjadi tuan rumah pasar mutiara dunia. Karena berapa pun kebutuhan mutiara mnurutnya bisa dipenuhi. Tinggal menunggu pasar, persedian mutiara siap kapan saja, lanjutnya. Sebanyak 36 perusahaan mutiara, tiga diantaranya perusahaan asing, tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. Dari sekitar 2000 lokasi budi daya mutiara di seluruh NTB, sudah termanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan mutiara yang ada. Lokasi-lokasi yang masih bisa dikembangkan untuk pembudidayaan mutiara adalah Lombok Tengah, Daerah Lombok Selatan, Sumbawa Barat, Teluk Saleh, Kilo, Wera.
    Mutiara mulai dikembangkan di NTB sejak tahun 1990-an. Pada waktu itu, ada pihak dari Jepang menganggap kualitas air laut dan tawar di NTB sangat cocok untuk budidaya mutiara. Posisi NTB yang strategis, terutama Pulau Lombok khususnya, yang berada di lintas perdagangan Internasional akan menjadi pertimbangan konsumen, memudahkan mereka untuk membeli secara langsung mutiara yang asli. Apalagi industri mutiara di NTB dilakukan dari hulu ke hilir yakni mulai dari pembudidayaan sampai ke produk jadi semuanya dilakukan di daerah ini.
    Kualitas terbaik yang dimiliki oleh mutiara NTB ini, tidak terlepas dari kondisi perairan NTB yang sangat potensial dan cocok untuk pembudidayaan mutiara. Karena, budidaya mutiara tergantung sungguh pada kondisi perairan yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan serta kualitas mutiara yang dihasilkan. “Lokasi sepanjang perairan di NTB rata-rata cocok untuk budidaya karang mutiara” kata DR. Sigit A.P Dwiyono dari LIPI UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut Mataram.
    Hal senada diungkapkan DR. Syachrudin AR, peneliti dan pengembang kerang mutiara, sirkulasi atau penggantian air dari Samudera Indonesia sangat bagus, sehingga pertumbuhan plankton dan zooplankton sebagai bahan makanan siput di perairan NTB, tersedia cukup banyak. “Jika makanan siput bagus, maka mutiara yang dihasilkan nantinya akan bagus juga,” katanya. Kebetulan, lanjutnya, perairan NTB sangat mendukung untuk itu. Tiga selat yang dimiliki NTB, Selat Alas, Selat Lombok dan Selat Sape juga menjadi faktor yang sangat potensial sebagai tempat budidaya mutiara karena terlindung dari gelombang.
    Pembibitan kerang mutiara sangat bagus jika dilakukan di teluk, sementara untuk pembudidayaannya lebih bagus dilakukan di perairan lepas, yang sirkulasi airnya baik, kata Sigit. Budidaya kerang mutiara sendiri, menurutnya, dilakukan mengingat jika melulu mengandalkan persediaan alam, maka lama-kelamaan kerang mutiara akan berkurang, bahkan habis. Sedangkan, permintaan pasar akan mutiara cenderung meningkat.
    Lokasi budidaya mutiara di NTB, meliputi daerah-daerah pesisir seperti Gili Gede (Pelayan, Bolangis), Gili Asahan (Labuhan Poh), Teluk Sire Lombok Barat, Sembelia Lombok Timur, Tanjung Bero, Teluk Mapin, Pulau Moyo dan Teluk Saleh, Sumbawa, Kwangko/Kempo, Teluk Sanggar, Dompu dan Teluk Sape serta Teluk Waworada, Bima.
    Budidaya kerang mutiara sangat penting dilakukan mengingat tidak seimbangnya kebutuhan dengan persediaan alam. Juga karena tingginya nilai ekonomis kerang mutiara tersebut, membuat orang mengambil kerang tanpa memikirkan dampak negatif terhadap populasi kerang itu sendiri. “Kalau kerang terus diambil, maka populasinya di alam akan berkurang bahkan bisa punah” ungkap Syachrudin.
    Mutiara yang dihasilkan secara alami bentuknya tidak akan beraturan atau sangat sulit mendapatkan yang berbentuk bulat. Tapi dengan campur tangan manusia, mutiara bisa dibentuk sesuai keinginan. Mutiara terbentuk, akibat adanya rangsangan benda asing yang masuk ke dalam mantel kerang mutiara baik secara buatan maupun alami. Benda asing tersebut terperangkap di dalam kerang dan tidak bisa keluar.
    Untuk menghilangkan rasa sakitnya, karena mutiara akan mengeluarkan cairan lendir untuk melapisi benda asing tersebut agar menjadi licin sehingga dapat terbebas dari rasa sakit. Semacam cara membuat hidupnya nyaman. Mantel karang mutiara memiliki sel-sel aktif yang dapat menghasilkan zat-zat lendir yang akan mengeras menjadi mutiara. Lapisan yang terbentukmemiliki warna, bentuk, ketebalan dan ukuran yang berbeda-beda, tergantung dari faktor eksternal maupun internal. “Nah, di sinilah kita bisa melakukan rekayasa itu,” kata Syachrudin.
    Dengan memasukkan benda-benda asing berupa nucleus (terbuat dari tulang ikan yang dihancurkan dan dibentuk bulatan) ke dalam kerang mutiara, maka akan menghasilkan mutiara yang bentuknya bulat. Kerang akan mengeluarkan lendir terus-menerus untuk melapisi, mengikuti bentuk benda asing yang masuk. “Maka mutiara yang dihasilkan bentuknya akan bulat” ujar Syahrudin.
    Mutiara hasil budidaya dirangsang dengan nucleus dan seibo. Seibo adalah mantel dari kerang lain yang dipotong-potong dan penempatannya harus saling bersentuhan dengan siput di dalam kerang mutiara. sumber: www.ntbprov.go.id

Selasa, 24 Maret 2015

KOPI SUMBAR TEMBUS PASAR DUNIA

KOPI SUMBAR TEMBUS PASAR DUNIA
PADANG, HALUAN – Sumatera Barat (Sumbar) terus meningkatkan mengembangkan pertanian kopi jenis Arabica. Dari enam kabupaten/kota pembudidaya kopi jenis ini telah mampu mengeksor 7 ton kopi jenis ini per tahunnya ke luar negeri.
Kepala Dinas Perkebunan Sumbar Faja­ruddin ditemui wartawan di sela acara Festival Original Kopi Sumbar tahun 2015 di Gedung Sapta Marga Korem 032 Wirabraja pada Rabu (18/3) kemarin mengatakan, dengan luas lahan kopi arabica 20.754 hektare yang tersebar di enam kabupaten/kota, yakni Kabupaten Solok Selatan, Solok, Tanah Datar, Agam, Pasaman, Pasaman Barat, dan Kabupaten Limapuluh Kota mampu menghasilkan 7 ton kopi arabica per tahunnya.
“ Kopi ini kita kirim ke Negara Australia, Italia, Thailand, Norwegia, dan China,” jelas­nya. Dikatakannya, selain diekspor, kopi arabica juga telah dipasarkan ke beberapa provinsi dalam negeri, seperti Jogjakarta, Bandung dan Jakarta.  “Kopi asal Sumbar banyak peminatnya yang dijual kafe-kafe,” tutur Fajaruddin. Ke depan Dinas Perkebunan Sumbar menargetkan untuk ekspor kopi arabica meningkat dari sebelumnya 7 ton menjadi 9,5 ton per tahunnya.
Terkait potensi kopi arabica di Sumbar, menurut Fajaruddin, memiliki potensi yang sangat besar, karena cuaca di Sumbar sangat mendukung untuk berkebun kopi. Melalui bimbingan dan penyuluhan yang rutin sering dilakukan untuk memberikan pemahanam bagaimana kopi yang bisa dipanen, karena kualitas kopi itu ditentukan prapanen dan pasca panennya.
Semenatar itu Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan dengan adanya festival kopi seperti ini, dengan menghadirkan para penilai dari luar Sumbar akan bermanfaat sekali bagi pertanian kopi di Sumbar.
”Hal tersebut tentu bisa menjadi nilai tambah dan juga daya saing serta harga kopi tentunya akan meningkat dari harga sebelum­nya,” ucap Irwan. Dikatakan Irwan, kualitas kopi yang ada di Sumbar sangatlah bagus, bahkan menurut para pencinta kopi, kopi sumbar merupakan salah satu kopi yang memiliki cita rasa kopi yang terbaik.
Untuk pengembangan tanaman kopi ke depannya, Gubernur akan melaksanakan pembinaan melalui Dinas terkait bagi para kelompok tani yang memproduksi kopi. “Kami akan memberikan yang terbaik bagi para kelompok tani kopi, mulai dari tahap mena­nam, memelihara dan pasca panennya, sehingga kedepan akan menghasilkan produksi kopi yang lebih berkualitas lagi,” tutupnya. (h/mg-isr)
Sumberhttp://www.harianhaluan.com/index.php/berita/ekbis/39002-kopi-sumbar-tembus-pasar-dunia