PASAR DUNIA TRANSAKSI BERKAH DAN TERPERCAYA

Pasar Dunia Membantu Penjualan dan pembelian barang dan jasa yang anda perlukan.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Ekspor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekspor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Maret 2014

Minyak Sawit Indonesia Dominasi Pasar Dunia

Minyak Sawit Indonesia Dominasi Pasar Dunia

London - Permintaan minyak sawit Indonesia terus meningkat dan semakin mendominasi pasar dunia itu menjadi topik hangat pembahasan dalam acara diskusi bersama Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom Bangun, yang diselenggarakan KJRI Hamburg, Sabtu(30/11).
Kehadiran Derom Bangun di Hamburg sebagai pembicara dalam "Oil World Outlook Conference" yang diorganisir ISTA Mielke GmbH (Oil World), perusahaan yang bergerak di bidang analisis data dan menyediakan informasi mengenai perkembangan pasar minyak dunia. Demikian yang dikemukakan oleh Minister Counselor Konsulat Jenderal RI Hamburg, Andi D. Yudyachandra, Sabtu (30/11).
Dalam diskusi mengenai Informasi Terbaru Industri Sawit Indonesia, yang dihadiri sekitar 100 peserta terdiri berbagai kalangan Derom Bangun mengatakan sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, isu minyak sawit merupakan hal yang sangat penting bagi Indonesia.
Dikatakannya di pasar dunia, komoditi minyak sawit semakin mengungguli minyak kedelai dan bersaing dengan minyak nabati lain seperti minyak kanola dan minyak bunga matahari.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI, ekspor komoditi minyak sawit Indonesia pada tahun 2012 senilai 26 juta dolar AS, meningkat dari tahun 2010 dan 2011 masing-masing sebesar 20,394,174 dan 23,500,000 dolar AS.
Derom Bangun menyampaikan informasi terbaru mengenai minyak sawit Indonesia yang bermanfaat untuk menambah wawasan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri sekaligus masukan dari peserta untuk diteruskan kepada stakeholders maupun kalangan petani dan pengusaha kelapa sawit di Indonesia.
Menurut Derom Bangun, minyak sawit memberi manfaat bagi petani dan masyarakat. Dari 9,1 juta ha lahan yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia, 42 persen diantaranya dimiliki petani dan membantu meningkatkan taraf hidup petani dan keluarga.
Meskipun terdapat berbagai kritikan mengenai produksi minyak sawit Indonesia, pada kenyataannya Pemerintah RI bersama dengan pemangku kepentingan terkait terus meningkatkan perlindungan lingkungan dalam industri kelapa sawit di Indonesia termasuk dengan menerapkan praktek "zero burning" dalam membuka lahan perkebunan kelapa sawit.
Diproyeksikan minyak sawit tetap akan mendominasi di Uni Eropa mengingat salah satu keunggulan produksi minyak sawit adalah kemampuan teksturnya untuk tetap bersifat padat dalam suhu ruangan dibandingkan minyak-minyak jenis lain yang bersifat cair.
Kelapa sawit memiliki keunggulan efisiensi lahan dengan tingkat produktivitas yang tinggi.
Sebagai contoh, berdasarkan data Oil World 2011, dari perbandingan data untuk luas lahan perkebunan yang digunakan untuk memproduksi minyak nabati, kelapa sawit hanya menggunakan lahan sebanyak 12 juta ha atau 5 persen dari total lahan sebesar 253,923,000 ha, dibandingkan dengan kedelai sebanyak 41 persen, kanola 13 persen, bunga matahari 10 persen dan lain-lain sebesar 3 persen.
Derom Bangun mengatakan bahwa Indonesia memiliki pengaruh yang sangat besar di dunia, sehingga diharapkan Indonesia dapat menghasilkan 42 juta ton minyak sawit untuk kebutuhan tahun 2020, meningkat dari estimasi produksi 2014 sebesar 29,5 juta ton.
Tantangan yang tengah dihadapi saat ini adalah memasukkan komoditi minyak sawit dalam agenda APEC, yaitu dengan merumuskan komoditi tersebut sebagai produk yang sustainable dan inklusif, banyak melibatkan petani dan berperan mengurangi kemiskinan.
Sementara itu Konsul Jenderal RI Hamburg, Marina Estella Anwar Bey mengatakan kelapa sawit merupakan produk komoditi primadona Indonesia dan Uni Eropa menempati peringkat ketiga dalam 10 besar negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia.
Dikatakannya pemberitaan mengenai dampak negatif produk minyak sawit bagi kesehatan maupun pandangan konsumen di Eropa yang mengaitkan produksi kelapa sawit penyebab berkurangnya populasi Orang Utan atau menjadi penyebab deforestasi menghambat masuknya produk minyak sawit Indonesia di negara-negara Uni Eropa.
Penulis: /RIN
Sumber:ANT

Jumat, 07 Maret 2014

Udang Indonesia Jadi Primadona Di Pasar Dunia

Udang Indonesia Jadi Primadona Di Pasar Dunia

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan udang Indonesia kini menjadi primadona dalam perdagangan dunia. Hal ini menjadi momentum positif untuk mengembalikan kejayaan udang Indonesia. 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, mengatakan model tambak percontohan yang dikembangkan oleh pihaknya di sejumlah titik, seperti di kawasan Pantura, dalam menggairahkan usaha budi daya udang di Tanah Air dinilai mulai menampakkan hasilnya. 

"Saat ini, udang kembali menjadi primadona dengan harga yang cukup tinggi dan tingkat keberhasilan budi daya yang bagus," katanya seperti dilansir Antara, Sabtu (31/8). 

Pengembangan budi daya di tambak-tambak yang terbengkalai, ujar dia, akan meningkatkan produktivitas lahan, menggairahkan kembali usaha budi daya udang, meningkatkan produksi udang sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petambak di sekitarnya. 

Harga udang Indonesia meningkat tajam pada bulan Agustus 2013 karena suplai komoditas tersebut di pasar dunia menurun akibat gagal panen di beberapa negara penghasil. Dampak depresiasi Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (USD) juga menjadi faktor penyebab. 

Sebelumnya, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Kawasan Timur Indonesia Hasanuddin Atjo di Jakarta, Minggu (25/8), mengatakan bahwa saat ini harga udang ukuran 70 ekor per kilogram mencapai Rp 75.000, ukuran 50 ekor seharga Rp 86.000 dan ukuran 40 ekor mencapai Rp 94.000. 

"Harga ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang rata-rata Rp48.000,00 per kilogram," katanya. 

Menurut dia, ada dua faktor utama yang menjadi penyebab meningkatnya harga udang tersebut, yakni pertama adalah negara-negara penghasil udang utama dunia, seperti China, Thailand, Vietnam, dan Meksiko mengalami gagal panen akibat serangan penyakit yang disebut "EMS" (early mortality syndroms) yang diduga disebabkan oleh sejenis bakteri. 

Konsekuensi dari wabah tersebut adalah stok udang dunia menurun sementara negara-negara pembeli, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang membatasi komoditas tersebut dari negara yang sedang terkena wabah EMS.

Sumberhttp://www.unik.ws/2013/08/udang-indonesia-jadi-primadona-di-pasar-dunia.html

Selasa, 25 Februari 2014

Indonesia Larang Ekspor Mineral, Ini Reaksi Pasar Dunia

Indonesia Larang Ekspor Mineral, Ini Reaksi Pasar Dunia

JAKARTA -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerakan Hatta-Ali Masykur Musa (Hamas), Edi Darma Pohan menyambut baik keputusan Pemerintah RI yang melarang ekspor mineral mentah.
"Itu kebijakan yang sangat luar biasa. Salah satu dampaknya, hari ini sejumlah media di Amerika Serikat memberitakan harga nikel naik tajam di The Chicago Mercantile Exchange karena pasokan nikel dari Indonesia berkurang," kata Hamas Edi Darma Pohan, di Jakarta Kamis (16/1).
Dijelaskannya, Indonesia menguasai sekitar 20 persen pasokan nikel dunia. Kebijakan Menko Perekonomian Hatta Rajasa itu selain bisa menaikkan pajak ekspor mineral. "Juga menguntungkan nama Indonesia sebagai suatu bangsa," ujarnya.
Pelarangan ekspor mineral mentah menurut dia, adalah keberanian yang luar biasa sehingga perlu untuk diapresiasi. "Saya katakan demikian karena sebelum diterapkan, banyak penolakan di dalam negeri atas keputusan itu khususnya dari pihak yang menyebut dirinya pengusaha minerba," ujar Edi Darma Pohan.
Mungkin lanjutnya, perasaan mereka itu benar. Namun hari ini kita melihat ternyata kebijakan Hatta Radjasa itu berbuah untuk seluruh bangsa ini.
"Kebijakan itu juga sangat penting bagi pemanfaatan hasil alam oleh bangsa kita karena selama ini lebih banyak dinikmati oleh bangsa lain dengan harga yang sangat murah," tuturnya. (fas/jpnn)
sumberhttp://www.jpnn.com/read/2014/01/16/211229/Indonesia-Larang-Ekspor-Mineral,-Ini-Reaksi-Pasar-Dunia-