PASAR DUNIA TRANSAKSI BERKAH DAN TERPERCAYA

Pasar Dunia Membantu Penjualan dan pembelian barang dan jasa yang anda perlukan.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 11 Maret 2014

Minyak Sawit Indonesia Dominasi Pasar Dunia

Minyak Sawit Indonesia Dominasi Pasar Dunia

London - Permintaan minyak sawit Indonesia terus meningkat dan semakin mendominasi pasar dunia itu menjadi topik hangat pembahasan dalam acara diskusi bersama Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom Bangun, yang diselenggarakan KJRI Hamburg, Sabtu(30/11).
Kehadiran Derom Bangun di Hamburg sebagai pembicara dalam "Oil World Outlook Conference" yang diorganisir ISTA Mielke GmbH (Oil World), perusahaan yang bergerak di bidang analisis data dan menyediakan informasi mengenai perkembangan pasar minyak dunia. Demikian yang dikemukakan oleh Minister Counselor Konsulat Jenderal RI Hamburg, Andi D. Yudyachandra, Sabtu (30/11).
Dalam diskusi mengenai Informasi Terbaru Industri Sawit Indonesia, yang dihadiri sekitar 100 peserta terdiri berbagai kalangan Derom Bangun mengatakan sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, isu minyak sawit merupakan hal yang sangat penting bagi Indonesia.
Dikatakannya di pasar dunia, komoditi minyak sawit semakin mengungguli minyak kedelai dan bersaing dengan minyak nabati lain seperti minyak kanola dan minyak bunga matahari.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI, ekspor komoditi minyak sawit Indonesia pada tahun 2012 senilai 26 juta dolar AS, meningkat dari tahun 2010 dan 2011 masing-masing sebesar 20,394,174 dan 23,500,000 dolar AS.
Derom Bangun menyampaikan informasi terbaru mengenai minyak sawit Indonesia yang bermanfaat untuk menambah wawasan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri sekaligus masukan dari peserta untuk diteruskan kepada stakeholders maupun kalangan petani dan pengusaha kelapa sawit di Indonesia.
Menurut Derom Bangun, minyak sawit memberi manfaat bagi petani dan masyarakat. Dari 9,1 juta ha lahan yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia, 42 persen diantaranya dimiliki petani dan membantu meningkatkan taraf hidup petani dan keluarga.
Meskipun terdapat berbagai kritikan mengenai produksi minyak sawit Indonesia, pada kenyataannya Pemerintah RI bersama dengan pemangku kepentingan terkait terus meningkatkan perlindungan lingkungan dalam industri kelapa sawit di Indonesia termasuk dengan menerapkan praktek "zero burning" dalam membuka lahan perkebunan kelapa sawit.
Diproyeksikan minyak sawit tetap akan mendominasi di Uni Eropa mengingat salah satu keunggulan produksi minyak sawit adalah kemampuan teksturnya untuk tetap bersifat padat dalam suhu ruangan dibandingkan minyak-minyak jenis lain yang bersifat cair.
Kelapa sawit memiliki keunggulan efisiensi lahan dengan tingkat produktivitas yang tinggi.
Sebagai contoh, berdasarkan data Oil World 2011, dari perbandingan data untuk luas lahan perkebunan yang digunakan untuk memproduksi minyak nabati, kelapa sawit hanya menggunakan lahan sebanyak 12 juta ha atau 5 persen dari total lahan sebesar 253,923,000 ha, dibandingkan dengan kedelai sebanyak 41 persen, kanola 13 persen, bunga matahari 10 persen dan lain-lain sebesar 3 persen.
Derom Bangun mengatakan bahwa Indonesia memiliki pengaruh yang sangat besar di dunia, sehingga diharapkan Indonesia dapat menghasilkan 42 juta ton minyak sawit untuk kebutuhan tahun 2020, meningkat dari estimasi produksi 2014 sebesar 29,5 juta ton.
Tantangan yang tengah dihadapi saat ini adalah memasukkan komoditi minyak sawit dalam agenda APEC, yaitu dengan merumuskan komoditi tersebut sebagai produk yang sustainable dan inklusif, banyak melibatkan petani dan berperan mengurangi kemiskinan.
Sementara itu Konsul Jenderal RI Hamburg, Marina Estella Anwar Bey mengatakan kelapa sawit merupakan produk komoditi primadona Indonesia dan Uni Eropa menempati peringkat ketiga dalam 10 besar negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia.
Dikatakannya pemberitaan mengenai dampak negatif produk minyak sawit bagi kesehatan maupun pandangan konsumen di Eropa yang mengaitkan produksi kelapa sawit penyebab berkurangnya populasi Orang Utan atau menjadi penyebab deforestasi menghambat masuknya produk minyak sawit Indonesia di negara-negara Uni Eropa.
Penulis: /RIN
Sumber:ANT

Minggu, 09 Maret 2014

Harga Emas RI Tak Ikut Pasar Dunia


Harga Emas RI Tak Ikut Pasar Dunia

VIVAnews - Harga emas Indonesia tidak bergerak pada perdagangan Selasa 2 April 2013. Harga logam mulia itu masih berada di level Rp554.000 per gram, tidak berubah dari harga Senin kemarin.


Dikutip dari laman Logammulia, harga emas batangan ukuran lima gram Rp2.625.000, ukuran 10 gram tetap Rp5.200.000, dan ukuran 10 gram dijual di level Rp12.925.000.

Harga emas ukuran 100 gram dilepas pada harga Rp51.550.000 dan emas 250 gram dilego di level Rp128.750.000. Sedangkan harga jual kembali (buyback) yang ditawarkan PT Antam Tbk, masih sebesar Rp494.000 per gram.

Sementara itu, harga emas berjangka di bursa New York, Amerika Serikat berakhir lebih tinggi dan kembali di kisaran US$1.600 pada perdagangan Senin waktu setempat. Sebab, pelaku pasar mencari safe haven (investasi aman) dari kelesuan bursa lantaran laporan dari sektor manufaktur yang lebih rendah dari perkiraan.

Seperti diberitakan Marketwatch, emas untuk pengiriman Juni naik US$5,20 atau 0,3 persen berada pada harga US$1.600,90 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Harga sempat turun 0,7 persen pada perdanganan Kamis pekan lalu, berada di level US$1.595,70. Perdagangan Comex tutup pada Jumat untuk perayaan Paskah.

Sementara itu, kontrak paling aktif emas berjangka mengalami kenaikan 1,1 persen pada Maret lalu. Namun, kehilangan 4,8 persen untuk kuartal pertama. "Untuk saat jni, emas yang paling diminati seiring laporan manufaktur ISM yang lemah," ujar Jefrey Wright, direktur pelaksana Global Hunter Securities. (asp)

Jumat, 07 Maret 2014

Udang Indonesia Jadi Primadona Di Pasar Dunia

Udang Indonesia Jadi Primadona Di Pasar Dunia

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan udang Indonesia kini menjadi primadona dalam perdagangan dunia. Hal ini menjadi momentum positif untuk mengembalikan kejayaan udang Indonesia. 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, mengatakan model tambak percontohan yang dikembangkan oleh pihaknya di sejumlah titik, seperti di kawasan Pantura, dalam menggairahkan usaha budi daya udang di Tanah Air dinilai mulai menampakkan hasilnya. 

"Saat ini, udang kembali menjadi primadona dengan harga yang cukup tinggi dan tingkat keberhasilan budi daya yang bagus," katanya seperti dilansir Antara, Sabtu (31/8). 

Pengembangan budi daya di tambak-tambak yang terbengkalai, ujar dia, akan meningkatkan produktivitas lahan, menggairahkan kembali usaha budi daya udang, meningkatkan produksi udang sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petambak di sekitarnya. 

Harga udang Indonesia meningkat tajam pada bulan Agustus 2013 karena suplai komoditas tersebut di pasar dunia menurun akibat gagal panen di beberapa negara penghasil. Dampak depresiasi Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (USD) juga menjadi faktor penyebab. 

Sebelumnya, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Kawasan Timur Indonesia Hasanuddin Atjo di Jakarta, Minggu (25/8), mengatakan bahwa saat ini harga udang ukuran 70 ekor per kilogram mencapai Rp 75.000, ukuran 50 ekor seharga Rp 86.000 dan ukuran 40 ekor mencapai Rp 94.000. 

"Harga ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang rata-rata Rp48.000,00 per kilogram," katanya. 

Menurut dia, ada dua faktor utama yang menjadi penyebab meningkatnya harga udang tersebut, yakni pertama adalah negara-negara penghasil udang utama dunia, seperti China, Thailand, Vietnam, dan Meksiko mengalami gagal panen akibat serangan penyakit yang disebut "EMS" (early mortality syndroms) yang diduga disebabkan oleh sejenis bakteri. 

Konsekuensi dari wabah tersebut adalah stok udang dunia menurun sementara negara-negara pembeli, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang membatasi komoditas tersebut dari negara yang sedang terkena wabah EMS.

Sumberhttp://www.unik.ws/2013/08/udang-indonesia-jadi-primadona-di-pasar-dunia.html

Rabu, 05 Maret 2014

Pengeranjin Keramik Binaan PSTKP Tembus Pasar Dunia

 Pengeranjin Keramik Binaan PSTKP Tembus Pasar Dunia

“Sejarah terbentuknya Unit Pelayanan Teknis Pengembangan Seni dan Teknologi Keramik dan Porselin (UPT PSTKP) BPPT di Bali bermula dari semakin sulitnya di dapat bahan baku utama untuk membuat patung, yaitu kayu. Kemudian kami mencari bahan baku alternatif lainnya, agar para pengrajin di Bali tetap dapat bisa berkarya. Setelah melakukan penelitian, kami akhirnya menemukan bahwa jenis tanah liat tertentu dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan keramik dan porselin. Jadi kami mencoba alihkan para pengrajin yang semula membuat patung dari kayu menjadi pengrajin keramik dari tanah liat”, ungkap Kepala Seksi Sarana UPT PSTKP BPPT I Nyoman Sadguna di Jakarta (10/12).

produk binaan
UPT PSTKP Bali, yang juga ikut serta pada pameran Jakarta IKM EXPO di Plasa Pameran Departemen Perindustrian 8–11 Desember 2009 lalu,  memfokuskan pada pengembangan desain keramik dan porselin, termasuk didalamnya penelitian bahan baku, teknik pembuatan dan teknik pengglasiran. Selain itu, PSTKP secara aktif memberikan pelatihan-pelatihan serta pembinaan terhadap para pengrajin.

Menurut Nyoman, saat ini terdapat tujuh kelompok pengrajin binaan PSTKP yang terdapat di  Bali, termasuk juga pengrajin dari Lombok, Kalimantan dan Jawa Tengah. “Para pengrajin biasanya berkonsultasi tentang bahan baku yang mereka gunakan, seperti misalnya kenapa bahan baku ini mudah pecah. Ada juga yang menanyakan tentang desain seperti apa yang cocok untuk di buat dengan bahan baku ini, seberapa kuat daya tahannya saat proses pembakaran, kenapa model ini tidak bisa dibuat lebih tinggi. Kita coba berikan solusi kepada mereka berkaitan dengan permasalahan tersebut”, katanya.
Potensi di Indonesia, menurut Nyoman sangatlah besar. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki tanah liat yang bisa digunakan sebagai bahan baku. Hanya saja menurutnya, sebagian besar pengrajin masih pada tingkatan pembuatan gerabah. Dengan memberikan pembinaan dan pelatihan, PSTKP mencoba meningkatkan kemampuan pengrajin, selain juga meneliti kandungan tanah liat dari daerah tersebut.
“Banyak hasil produksi keramik dari pengrajin yang sudah menembus pasar luar negeri. Ini merupakan bukti keramik kita sudah diakui oleh masyarakat dunia, baik dari segi kualitas maupun desain keramik itu sendiri. Tentunya, hal ini bisa dijadikan acuan bagi para pengrajin lainnya yang ingin menggeluti bidang seni keramik dan porselin. PSTKP , sesuai kompetensi tentunya siap mendukung hal tersebut”, ungkap Nyoman. (KYRA/humas)

Senin, 03 Maret 2014

Apple Ingin Kuasai 11% Pasar Teknologi Dunia


Apple Ingin Kuasai 11% Pasar Teknologi Dunia

CUPERTINO - Perusahaan raksasa asal California, Apple, menargetkan untuk mencapai angka 11 persen dalam pangsa pasar penjualan produk secara global. Dilihat dari hasil penjualan beberapa tahun belakangan, produk-produk pabrikan Apple memang sudah menempati posisi dominan di pasar dunia.

Seperti dilaporkan Ubergizmo, Sabtu (11/1/2014), perusahaan riset Forrester Research mengungkapkan bahwa Apple telah mencapai angka 8 persen dalam pangsa pasar penjualan produk di seluruh dunia. Namun laporan terbaru mengatakan perusahaan yang bermarkas di Cupertino itu menargetkan pangsa pasar secara global sebanyak 11 persen pada 2015 mendatang.

Hal ini pun tampaknya rasional mengingat Apple saat ini tengah melakukan ekspansi dalam bidang produksi. Seperti diketahui, Apple saat ini tengah membangun kawasan pabrik manufaktur di Arizona untuk memproduksi produk-produk besutannya. Kendatipun sedang membuat pabrik sendiri, Apple tetap bekerja sama dengan mitra manufaktur asal China, Foxconn, dalam memproduksi berbagai perangkat.

Saat ini, Apple sendiri sudah menjadi vendor dominan di pasar smartphone dunia. Berada di urutan kedua di belakang dominasi ponsel berbasis Android. Namun untuk produk komputer seperti laptop dan PC, Apple masih harus bersaing dengan berbagai perangkat berbasis Windows. (amr)


Sabtu, 01 Maret 2014

RAHASIA DIBALIK KESUKSESAN PRODUK CINA MENGUASAI PASAR DUNIA

RAHASIA DIBALIK KESUKSESAN PRODUK CINA MENGUASAI PASAR DUNIA

Oleh: Muhammad Subair
Di saat negara kita sedang berjuang mati-matian untuk meningkatkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, di lain pihak Cina justru mengalami tekanan dari dunia agar mau mengambangkan nilai mata uangnya yang dinilai dipatok terlau rendah. Pematokan nilai yuan yang sudah dilakukan semenjak tahun 1994 ini diprotes karena dianggap sebagai penyebab utama miringnya harga produk-produk Cina di pasaran dunia (Sarnianto, 2004). Kekhawatiran tersebut memang beralasan melihat hampir dapat dikatakan produk-produk berlabel made in China medominasi pasar dunia mulai dari sekedar peniti sampai perangkat elektronika canggih.
Banyak faktor yang mendorong perekonomian Cina sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini, dimana dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 7% setiap tahunnya telah mengantarkan Cina sebagai salah satu raksasa perekonomian dunia. Faktor nilai tukar mata uang sudah pasti bukanlah satu-satunya penyebab produk-produk negara dengan populasi terbesar di dunia ini mampu berjaya menguasai pasar dunia. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi mengingat kalau hanya faktor itu, seharusnya Indonesia juga sudah bisa mengambil mamfaat dari nilai tukar rupiah yang sangat menyedihkan.
Salah satu hal lain yang lebih penting dari itu adalah faktor apakah yang menyebabkan Cina bisa begitu produktif untuk dapat menghasilkan produk-produk berkualitas yang sangat diterima oleh pasar dunia. Negara-negara G-7 saja bahkan secara terang-terangan merangkul Cina yang saat ini menduduki peringkat keempat dalam perdagangan dunia, di bawah AS, Jerman dan Jepang untuk mau berbagi dan berbicara dalam forum mereka (Pikiran Rakyat, 2 Oktober 2004). Ternyata selain karena aliran modal asing dan teknologi tinggi, yang justru sangat menarik dari pengalaman Cina adalah besarnya peran Usaha Kecil dan Menegah (UKM) dan bisnis swasta daerah yang disebut sebagai Township and Village Enterprises (TVEs) dalam menopang kekuatan ekspornya.
Peran Penting TVEs Bagi Perekonomian Cina
Sumbangsih TVEs bagi perekonomian Cina memang tidak bisa disepelekan. TVEs yang semula merupakan perkembangan dari industri pedesaan yang digalakkan oleh pemerintah Cina. Jika pada tahun 1960 jumlahnya hanya sekitar 117 ribu, namun semenjak reformasi tahun 1978 jumlahnya mengalami pertumbuhan spektakuler menjadi 1,52 juta. Apabila dilihat dari sisi penyediaan lapangan kerja, TVEs di akhir tahun 1990-an telah menampung setengah dari tenaga kerja di pedesaan Cina.
Walaupun perkembangan TVEs ini sempat mengalami pasang surut dan tidak merata di seluruh wilayah Cina, namun secara rata-rata mengalami pertumbuhan yang sangat mengesankan. Produksi dari TVEs meningkat dengan rata-rata 22,9 persen pada periode 1978-1994. Secara nasional, output TVEs pada tahun 1994 mencapai 42% dari seluruh produksi nasional. Sedangkan untuk volume ekspor, TVEs memberikan kontribusi sebesar sepertiga dari volume total ekspor Cina pada tahun 1990-an (Pamuji, 2004).
Dilihat dari sisi perdagangan secara angka di atas kertas memang masih terlihat bahwa ekspor kita masih surplus dibanding Cina. Menurut data yang diperoleh dari Dubes RI di China, bahwa tepatnya sampai dengan 3 Agustus 2004 dilihat dari sudut pandang perdagangan luar negeri China, saat ini Indonesia merupakan negara tujuan ekspor urutan ke-17 dengan nilai 2,66 miliar dollar AS atau 1,03 persen dari total ekspor China yang mencapai nilai 258,21 miliar dollar AS. Indonesia juga menjadi negara asal impor ke-17 bagi China dengan nilai ekspor 3,44 miliar dollar AS (Osa, 2004).
Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan tampak bahwa barang-barang produksi Cina terlihat di mana-mana. Kita tidak menutup mata bahwa banyak produk dari negeri panda tersebut yang masuk secara ilegal ke Indonesia sehingga tidak ikut tercatat secara resmi dalam laporan tersebut. Namun penjelasan dari Ketua Umum Kadin Indonesia Komite Cina, Sharif Cicip Sutardjo sangat masuk akal. Sebagaimana dikutip dari wawancara dengan Sinar Harapan dijelaskan bahwa ekspor Indonesia ke Cina memang besar namun sebagian besar merupakan bahan mentah dengan jumlah item yang sangat sedikit, kurang lebih hanya 15 item seperti migas, CPO, karet, kayu, dan lain-lain. Sedangkan dari Cina kita mengimpor ratusan item, mulai dari ampas, hasil pertanian, peralatan sampai ke motor dan mobil. Sebagian besar perusahaan yang menghasilkan produk-produk itu semua di Cina hanyalah industri swasta, UKM atau TVEs (www.sinarharapan.co.id/ ekonomi/industri/2003/1224/ind2.html).
Kenyataan ini sungguh berkebalikan dengan keadaan UKM kita yang kurang diberdayakan padahal memiliki potensi yang sangat besar. Jumlah UKM mencakup 99 % dari total seluruh industri di Indonesia dan menyerap sekitar 56 % dari jumlah total seluruh pekerja Indonesia (Rochman, 2003). Untuk itu sangat perlu kita lihat upaya apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah Cina untuk memajukan industri swasta khusunya UKM, mengingat UKM kita juga sebenarnya punya kemampuan. Hal ini terbukti pada saat krisis moneter justru sektor UKM yang mampu bertahan.
Usaha Pemerintah Cina yang Dirintis Sejak Lama
Apa yang sekarang Cina nikmati dari industrinya terutama TVEs merupakan hasil usaha bertahun-tahun. Pada tahun 1986 dipimpin oleh State Science and Technology Commission (SSTC) Cina memperkenalkan Torch Program yang bertujuan untuk mengembangkan penemuan-penemuan dan penelitian-penelitian oleh universitas dan lembaga riset pemerintah untuk keperluan komersialisasi. Hasil yang diperoleh kemudian ditindaklanjuti dengan membuat New Technology Enterprises (NTEs). Selanjutnya SSTC mengembangkan 52 high-tchnology zones yang serupa dengan research park di Amerika dengan bertumpu pada NTEs tadi (Mufson, 1998). Walaupun NTEs ini bersifat perusahaan bersakala besar namun kedepannya memiliki peran sebagai basis dalam pengembangan teknologi untuk industri-industri kecil dan menengah.
Pemerintah Cina kemudian masih dengan SSTC mengeluarkan kebijakan untuk mendukung TVEs yang disebut sebagai The Spark Plan. Kebijakan ini terdiri dari 3 kegiatan utama yang berangkaian. Pertama, memberikan pelatihan bagi 200.000 pemuda desa setiap tahunnya berupa satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di daerahnya. Kegiatan kedua dilakukan dengan lembaga riset di tingkat pusat dan tingkat provinsi guna membangun peralatan teknologi yang siap pakai di pedesaan. Dan yang ketiga adalah dengan mendirikan 500 TVEs yang berkualitas sebagai pilot project (Pamuji, 2004).
Pemerintah Cina juga berusaha menempatkan diri sebagai pelayan dengan menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan oleh industri. Mulai dari hal yang paling essensial dalam memulai sebuah usaha yaitu birokrasi perizinan yang mudah dan cepat, dimana dalam sebuah artikel dikatakan bahwa untuk memulai usaha di Cina hanya membutuhkan waktu tunggu selama 40 hari, bandingkan dengan Indonesia yang membutuhkan waktu 151 hari untuk mengurus perizinan usaha (www.suaramerdeka.com/harian/0503/01/eko07.htm).
Tidak ketinggalan infrastruktur penunjang untuk memacu ekspor yang disiapkan oleh pemerintah Cina secara serius. Bila pada tahun 1978 total panjang jalan raya di Cina hanya 89.200 km, maka pada tahun 2002 meningkat tajam menjadi 170.000 km. Untuk pelabuhan, setidaknya saat ini Cina memiliki 3.800 pelabuhan angkut, 300 di antaranya dapat menerima kapal berkapasitas 10.000 MT. Sementara untuk keperluan tenaga listrik pada tahun 2001 saja Cina telah mampu menyediakan sebesar 14,78 triliun kwh, dan saat ini telah dilakukan persiapan untuk membangun PLTA terbesar di dunia yang direncanakan sudah dapat digunakan pada tahun 2009 (Wangsa, 2005).
SDM Terbaik Sebagai Pengusaha
Dalam hal SDM untuk dunia usaha Cina juga tidak tanggung-tanggung dalam mengarahkan orang-orang terbaiknya untuk menjadi pengusaha yang handal. Sejak tahun 1990-an, Cina telah mengirimkan ribuan tenaga mudanya yang terbaik untuk belajar ke beberapa universitas terbaik di Amerika Serikat, seperti Harvard, Stanford, dan MIT. Di Harvard saja, Cina telah mengirimkan ribuan mahasiswanya untuk mempelajari sistem ekonomi terbuka dan kebijakan pemerintahan barat, walaupun Cina masih menerapkan sistim ekonomi yang relatif tertutup. Sebagai hasilnya, Cina saat ini telah memiliki jaringan perdagangan yang sangat mantap dengan Amerika, bahkan memperoleh status sebagai The Most Prefered Trading Partner (Kardono, 2001).
Pemerintah Cina juga membujuk para overseas Chinese scholars and professionals, terutama yang sedang dan pernah bekerja di pusat-pusat riset dan MNCs di bidang teknologi di seluruh penjuru dunia untuk mau pulang kampung dan membuka perusahaan baru di Cina. Mantan-mantan tenaga ahli dari Silicon Valley dan IBM ini misalnya, diharapkan nantinya juga akan dapat mempermudah pembukaan jaringan usaha dengan MNCs ex-employer lainnya yang tersebar di seluruh dunia (www.mail-archive.com/bhtv @paume.itb.ac.id/msg00042.html). Tentu saja bujukan itu dilakukan dengan iming-iming kemudahan dan fasilitas untuk memulai usaha, seperti insentif pajak, kemudahan dalam perizinan, dan suntikan modal.
Indonesia Harus Bisa Mengambil Pelajaran dari Cina
Kita sebaiknya bisa belajar dari kesuksesan Cina mengembangkan dunia usaha dan industrinya. Hal ini jauh lebih baik ketimbang hanya menggerutu melihat produk-produk Cina yang membanjiri pasar dalam negeri. Merajalelanya produk-produk Cina dengan harga yang murah dan berkualitas harus dilihat tidak hanya sebagai ancaman, namun juga sebagai pemicu agar Indonesia bisa bergerak ke arah perbaikan. Pada kesempatan ini penulis dengan keterbatasan kapasitas yang dimiliki akan mencoba merumuskan beberapa masukan berupa langkah yang sebaiknya kita tempuh berkaitan dengan apa yang telah dilakukan dan diraih oleh Cina.
Pertama, yaitu kita harus mencoba mengkaji kebijakan-kebijakan Cina dalam perekonomian khususnya dalam memajukan dunia usahanya. Setelah itu dirumuskan manakah yang bisa dan tepat untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini mengingat keadaan , latar belakang, dan budaya Cina yang tidak sama dengan Indonesia.
Langkah kedua yang bisa ditempuh adalah dengan mempererat hubungan kerja sama dengan Cina, tidak saja dalam ekonomi namun juga pada bidang-bidang lainnya yang dianggap penting. Dalam bidang ekonomi dan keamanan misalnya dengan membuat nota kesepahaman tentang kerjasama dalam penanganan penyelundupan di kedua negara. Bentuk kerjasama yang lain misalnya adalah dengan melakukan sinergi industri antara kedua negara. Seperti yang sudah berjalan pada industri lilin antara Indonesia dan Cina, dimana terdapat kesepakatn tidak tertulis dalam pembagian fokus industri, dengan pembagian industri hulu dan menegah yang ditangani Indonesia sedangkan hilir dipegang oleh Cina.
Ketiga, adalah dengan menciptakan budaya wirausaha di Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan meniru langkah pemerintah Cina dengan kebijakan-kebijakannya dalam merangsang munculnya para pengusaha-pengusaha baru. Akan tetapi apabila dilihat lebih cermat, sebenarnya yang menjadi masalah utama di Indonesia terletak pada paradigma berpikir masyarakatnya. Di Indonesia hampir tidak ada kita kita lihat keinginan yang besar dari kalangan terdidik untuk menjadi pengusaha.
Penyebabnya bisa jadi karena malas dan takut mengambil resiko untuk berjuang dari nol apabila menjadi pengusaha. Masyarakat kita juga pada umumnya menaruh simpati yang lebih besar pada profesi-profesi yang secara praktis terlihat ekslusif, seperti dokter, akuntan, dan pengacara dibanding dengan wirausaha. Keadaan ini lebih diperburuk dengan sistem pendidikan kita yang cenderung mengabaikan pelajaran tentang kewirausahaan dan kepemimpinan. Hal ini sangat berkebalikan dengan budaya wirausaha yang sangat kental dari penduduk Cina.Langkah keempat adalah dengan memaksimalkan peran akademisi yaitu peneliti untuk menunjang dunia usaha. Selama ini diantara banyak kendala dunia usaha kita terutama UKM, yang paling besar adalah dari sisi teknologi dan metode yang tidak efisien dan jauh tertinggal dari pesaingnya di luar negeri. Untuk itu kiranya para peneliti mau turun dari menara gading untuk mau membantu penelitian industri-industri di Indonesia. Sudah saatnya penelitian yang dilakukan bisa lebih membumi sehingga dapat juga dinikmati oleh industri-industri kecil dan menengah.
Penutup
Demikianlah pembahasan yang dilakukan oleh penulis berkaitan dengan iklim usaha di Cina yang merupakan salah satu unsur utama pendorong perekonomian Cina hingga bisa menjelma menjadi raksasa perekonomian dunia. Walaupun tidak semuanya pas diterapkan di Indonesia, namun setidaknya beberapa langkah-langkah Cina yang telah terbukti berhasil tidak ada salahnya untuk diikuti dan dipraktekkan di Indonesia.
Seluruh komponen mulai dari pemerintah, akademisi, peneliti, pengusaha, dan warga masyarakat umum harus ikut serta memikirkan dan bekerja keras mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dialami negara kita tercinta ini. Setiap pihak hendaknya berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimilikinya masing-masing. Akhir kata penulis berharap tulisan yang sederhana ini dapat berguna dan bermamfaat. (MuhammadSubair)

Daftar Pustaka
  • 1. Kardono, 2001,Fokus PT. Dirgantara Indonesia Dalam Industri Penerbangan Untuk Meraih Keunggulan, Available, http://www.indonesian-aerospace.com/book/d16.htm, 23 Maret 2001
  • 2. Mufson S., 1998, In China, professor leads a high-tech revolution, Artikel Koran Washington Post, Washington ,10 Juni 1998
  • 3. Osa S., 2004, Hubungan Perdagangan China-Indonesia Pantas Dipelihara, Artikel Koran Kompas, 18 Agustus 2004
  • 4. Pamuji N., 2004, Diplomasi Cina, Indonesia dan Presiden Baru, Available, http://www.mail-archive.com/ ekonomi-nasional@yahoogroups.com/ msg00156.html, 30 September 2004
  • 5. Rochman, N. T., 2003, Memperkuat Industri Rakyat : Mendewasakan SDM Unggul, Berita IPTEK LIPI, 5 November
  • 6. Sarnianto P., 2004, Sang Naga Merah yang Kian Tak Tertahankan, Artikel Majalah Swa, Jakarta, 9 Desember 2004
  • 7. Sinar Harapan, 2003, Pemain Utama Cina Segera Masuk ke Indonesia, Available, www.sinarharapan.co.id/ekonomi/industri/2003/1224/ind2.html
  • 8. Suara Merdeka, 2001, Birokrasi Panjang Penyebab PMA Turun, Available, http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/01/eko07.htm, 1 Maret 2005
  • 9. Suyitno S., 2003, Belajar Dari Negara Cina (Creating World-Class New-Start-up Entrepreneur), Available, http://www.mail-archive.com/bhtv @paume.itb.ac.id/msg00042.html, Juli 2003
  • 10. Wangsa L. M. S., 2005, Membangun Infrastruktur Ala Cina, Available, http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=103866, 25 Februari 2005

Indonesia Kuasai Pasar Gaharu Dunia

Indonesia Kuasai Pasar Gaharu Dunia

Indonesia bertekad untuk meningkatkan penguasaan pasar kayu Gaharu (dari genus Aquilaria spp) seiring dengan telah dikuasainya teknologi produksi budidaya komoditas beraroma wangi tersebut. Pertimbangan utamanya, kayu gaharu merupakan kekayaan sumber daya alam dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Sekjen Asosiasi Pengusaha Eksportir Gaharu Indonesia (Asgarin), Faisal Salampessy, dihubungi dari Jakarta, Rabu (29/4),
menjelaskan, kebutuhan gaharu di pasar global mencapai 3.000 ton dengan nilai transaksi senilai Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun. Dengan penguasaan pasar dunia hingga 70 persen.
"Saat ini gaharu eks Indonesia menguasai 65 persen-70 persen pangsa pasar dunia," ujarnya.
Kementerian Kehutanan mengungkapkan Indonesia merupakan negara pengekspor gaharu terbesar di dunia mencapai 600 ton per tahun seiring tingginya produksi tanaman tersebut.
"Pada tahun 2010, penerimaan negara bukan pajak dari ekspor gaharu Rp4,5 miliar," ujar Menhut Zulkifli Hasan dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Alam Darori, pada pembukaan seminar internasional gaharu di Pangkalan Baru.
Ia mengatakan, pemerintah Indonesia sejak 1995 telah menetapkan kuota pemanenan dan perdagangan gaharu untuk mendukung keberlanjutan produksi tanaman tersebut, sehingga tetap menjadi salah satu andalan penyumbang devisa negara.
"Kuota itu ditetapkan setiap tahun kepada para eksportir yang telah memperoleh izin dari Asosiasi Gaharu Indonesia (Asgarin) berdasarkan potensi di masing-masing provinsi yang dikeluarkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," ujarnya.
Dijelaskan, saat ini pasar komoditas gaharu di dunia terutama bertujuan pada negara-negara Timur Tengah (Timteng) maupun Asia Selatan. Harga gaharu bervariasi tergantung kualitas dan bisa mencapai Rp15 juta-Rp30 juta/kilogram untuk kualitas double super.
Menurut Salampessy, untuk meningkatkan mutu kayu gaharu di pasar dunia, sejumlah teknologi telah dikembangkan. Nantinya, dengan teknologi produksi gaharu yang telah dikuasai Indonesia, maka pasar kayu gaharu asal Indonesia akan semakin luas.
"Sebab, sejauh ini ekspansi pasar terbatas karena produksi gaharu masih bergantung kepada hasil alam," jelasnya. Sedang sekitar 20 persen pasokan gaharu merupakan hasil dari budidaya dengan rekayasa teknologi.
Maka dari itu, tutur dia, Asgarin sedang mencoba teknologi inokulasi yang dikembangkan, sehingga produksi gaharu bisa meningkat untuk memenuhi permintaan pasar dunia.
Sumberhttp://gaharugo-ihb.com/blog/35-indonesia-kuasai-pasar-gaharu-dunia